2000 + 25 = S.O.S.!
Monolog
Y.S.
Agus Suseno
Di ruangan yang
suram mencekam dan meruapkan bau kematian, seseorang datang dari masa lalu.
Memantulkan jejak kelam masa silam, kesengsaraan seluruh umat manusia seakan
tergambar di wajahnya. Tertatih-tatih menyeret sesuatu, memperlakukan benda itu
seakan sebuah bangsa mempertahankan martabat dan kedaulatannya.
Aku harus bicara. Ya, aku harus bicara. Tapi
karena manusia tak dapat dipercaya, aku hanya akan bicara kepada Ning Diwata, kepada kalian: serunai
bambu dan gendang yang tak lagi bertalu, gong dan giring-giring balian
yang tak lagi berpadu, lalaya dan lilihi yang tak ada lagi.
Semoga arwah para datu dan leluhur, yang kuburannya tergusur,
mendengar... (Duduk, terengah-engah)