Setelah membaca iklan Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) IX
yang dipasang Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kota
Banjarmasin di salah satu media cetak lokal, Rabu, 11 Juli 2012 (hlm.13) --
juga di www.wisatabanjarmasin.com --
yang waktu pelaksanaan dan materi lombanya berbeda dengan yang telah diumumkan
selama ini di media cetak lokal maupun dunia maya (internet, blog dan 45 grup sastra di facebook), dengan ini saya menyatakan mengundurkan diri dari kepanitiaan, tidak terlibat/tidak bertanggung jawab lagi
atas segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan ASKS IX di Kota
Banjarmasin Tahun 2012, dengan penjelasan sebagai berikut:
Minggu, 17 Februari
2008, Sanggar Lawang genap 14 tahun. Sabtu sore, 9 Februari, saya ditelepon pengurus,
yang meminta saya menyampaikan “orasi budaya” dalam acara selamatan hari jadi sanggar.
Permintaan itu barangkali berdasarkan pertimbangan: saya termasuk salah satu
pendiri sanggar ini, di samping sebagai pembina dan mantan ketua pertama
(1994-1996)-nya.
Percayakah Anda, bahwa urang
kampung dan urang bahari (bahari dalam arti “zaman dulu”,
bukan dalam pengertian maritim) lebih arif dan bijaksana daripada orang kota
atawa urang wayah ini? Orang kota (yang biasanya juga berasal dari
kampung) umumnya identik dengan segala sesuatu yang serba “modern” atau,
malahan, “postmodern” (entah makhluk apa itu): kaum intelektual dan
cendekiawan, orang kantoran dan profesional, punya mobilitas tinggi, berwawasan
“global”, mengikuti trend, “gaul”, memiliki akses tak terbatas pada
teknologi telekomunikasi dan informasi, moda transportasi, hiburan, kuliner, dan
seterusnya.
Limbah mangibahi nyamuk pada ambutut
buyut nang nyanyak tajangak, Nining Niah bangsul ka tawing halat. Diandak sidin
wadah panginangan lawan pakucuran ka higa awak, bahindapang ka tawing, hadap ka
Nurjanah. “Cah, sarana diristaakan bahimat-himat, Tay ai,” jar hidin. “Ayu ha, bawa
batawakal. Basarah diri haja. Mudahan hati laki ikam tabuka...”
Suatu hari, di suatu tempat,
sebuah ironisme berlangsung. Sabtu malam, 16 Februari 2008, di Taman Budaya
Kalimantan Selatan (TBKS), Banjarmasin.
Di belakang, di Gedung
Balairungsari, ratusan siswa sekolah menengah kabupaten/kota antusias menggelar
dan menyaksikan festival teater tingkat pelajar se-provinsi (yang mereka kelola
secara swadaya).
Di depan, di teras kiri
Gedung Wargasari, berhadapan dengan jalan raya dan kampus Unlam, digelar wayang
kulit Banjar (persembahan TBKS).