Senin, 10 September 2012

Puisi SMS Ibramsyah Amandit


Ibramsyah Amandit
LUMPUH (2)

Tak ada lagi rumah
ruang bersantai berbagi gurau dan cengkrama
Berleha-leha dengan keluarga
seperti dulu, seperti semula

Kini tiap bangunan menjadi kota yang rata
beranda, ruang tamu dan kamar tidur

Sabtu, 14 Juli 2012

Maklumat ASKS IX Banjarmasin 2012


MAKLUMAT
PENGUNDURAN DIRI DARI KEPANITIAAN
ARUH SASTRA KALIMANTAN SELATAN (ASKS) IX
BANJARMASIN 2012

Setelah membaca iklan Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) IX yang dipasang Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kota Banjarmasin di salah satu media cetak lokal, Rabu, 11 Juli 2012 (hlm.13) -- juga di www.wisatabanjarmasin.com -- yang waktu pelaksanaan dan materi lombanya berbeda dengan yang telah diumumkan selama ini di media cetak lokal maupun dunia maya (internet, blog dan 45 grup sastra di facebook), dengan ini saya menyatakan mengundurkan diri dari kepanitiaan, tidak terlibat/tidak bertanggung jawab lagi atas segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan ASKS IX di Kota Banjarmasin Tahun 2012, dengan penjelasan sebagai berikut:

Jumat, 08 Juni 2012

Esai: Sanggar Lawang (1994-2008): Seni Pertunjukan dan Lain-lain


SANGGAR LAWANG (1994-2008):
SENI PERTUNJUKAN DAN LAIN-LAIN[1]
Y.S. Agus Suseno

            Minggu, 17 Februari 2008, Sanggar Lawang genap 14 tahun. Sabtu sore, 9 Februari, saya ditelepon pengurus, yang meminta saya menyampaikan “orasi budaya” dalam acara selamatan hari jadi sanggar. Permintaan itu barangkali berdasarkan pertimbangan: saya termasuk salah satu pendiri sanggar ini, di samping sebagai pembina dan mantan ketua pertama (1994-1996)-nya.

Esai: In Memoriam Bakhtiar Sanderta (1939-2008)


IN MEMORIAM BAKHTIAR SANDERTA (1939-2008):
MAESTRO SENI TRADISI BANJAR

Y.S. Agus Suseno


Balayar kapal, sayang
balayar kapal Naga Salimburan
Lapas palinggam
lapas palinggam tangah lautan
Subarang sana pulau harapan
handak ka situ arah tujuan

Hidup, mati, rajaki, judu
Maha Cahaya manantuakan

Hidupkah mati, sayang
Hidupkah mati kita sakalian
Ada rajaki, ada rajaki diamparakan
Ada pun judu jua disarahakan
Maha Cahaya manantuakan[1]

Esai


“MAWARIK TUNGGAL...”


Y.S. Agus Suseno


            Percayakah Anda, bahwa urang kampung dan urang bahari (bahari dalam arti “zaman dulu”, bukan dalam pengertian maritim) lebih arif dan bijaksana daripada orang kota atawa urang wayah ini? Orang kota (yang biasanya juga berasal dari kampung) umumnya identik dengan segala sesuatu yang serba “modern” atau, malahan, “postmodern” (entah makhluk apa itu): kaum intelektual dan cendekiawan, orang kantoran dan profesional, punya mobilitas tinggi, berwawasan “global”, mengikuti trend, “gaul”, memiliki akses tak terbatas pada teknologi telekomunikasi dan informasi, moda transportasi, hiburan, kuliner, dan seterusnya.

Cerpen Bahasa Banjar


KAMBANG KADA SAKAKI,
KUMBANG KADA SAIKUNG,
ALAM KADA BATAWING

Kisah Handap Y.S. Agus Suseno

            Limbah mangibahi nyamuk pada ambutut buyut nang nyanyak tajangak, Nining Niah bangsul ka tawing halat. Diandak sidin wadah panginangan lawan pakucuran ka higa awak, bahindapang ka tawing, hadap ka Nurjanah. “Cah, sarana diristaakan bahimat-himat, Tay ai,” jar hidin. “Ayu ha, bawa batawakal. Basarah diri haja. Mudahan hati laki ikam tabuka...”

Esai: Ironisme Seni Budaya Kita


IRONISME SENI BUDAYA KITA

Y.S. Agus Suseno


            Suatu hari, di suatu tempat, sebuah ironisme berlangsung. Sabtu malam, 16 Februari 2008, di Taman Budaya Kalimantan Selatan (TBKS), Banjarmasin.
            Di belakang, di Gedung Balairungsari, ratusan siswa sekolah menengah kabupaten/kota antusias menggelar dan menyaksikan festival teater tingkat pelajar se-provinsi (yang mereka kelola secara swadaya).
            Di depan, di teras kiri Gedung Wargasari, berhadapan dengan jalan raya dan kampus Unlam, digelar wayang kulit Banjar (persembahan TBKS).